Kamis, 03 September 2009

Sempat Ingin Tak Berpolitik tapi Banyak Tawaran Jadi Caleg

Kaltim Post, Jum'at, 04 September 2009

SAMARINDA - Dalam dunia politik dikenal kata-kata, tak ada kawan yang abadi, yang ada kepentingan abadi. Mungkin kondisi inilah yang sedikit menggambarkan perjalanan Andi Harun, politikus muda yang sempat didepak partainya lantaran berbeda pandangan. Namun kini bisa membuktikan bahwa dia masih bisa berkiprah, meski melalui partai politik yang berbeda.

Tahun 1999, merupakan awal karir politik Andi Harun. Dia bergabung ke partai politik bernuansa reformasi yakni Partai Amanat Nasional (PAN). Saat itu partai berlambang matahari terbit ini masih dipimpin Amien Rais, yang merupakan tokoh nasional pengusung reformasi di Indonesia.

Dalam perjalanan politiknya bersama PAN, suami Hj Rinda Wahyuni ini masuk sebagai anggota DPRD Kaltim. Di partai politik dia menduduki jabatan wakil ketua. Jabatan wakil ketua ini dua kali dijabatnya, tatkala kepemimpinan PAN di Kaltim dipegang Agus Sukaca dan Bambang Suyanto.

Ketika era kepemimpinan Bambang Suyanto, pecah konflik internal di tubuh PAN Kaltim. Konflik di tubuh PAN disebabkan ketidakkompakan antar-pengurus partai yang melakukan dukung-mendukung calon gubernur Kaltim saat pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kaltim 2003 lalu. Akibat konflik itu, dia ditunjuk DPP PAN untuk menggantikan Bambang Suyanto sebagai ketua partai politik.

Perjalanan DPW PAN Kaltim sejak kepemimpinan Andi Harun berjalan mulus, bahkan bisa dikatakan berhasil. Karena bisa menempatkan 5 kadernya untuk duduk di kursi wakil rakyat di DPRD Kaltim. Namun itu tak berlangsung lama, pada pertengahan 2008 kedudukannya digoyang. Lagi-lagi hal ini disebabkan adanya dukung-mendukung calon gubernur Kaltim antara Achmad Amins dan Awang Faroek Ishak. Andi cenderung mendukung Achmad Amins sementara partainya lebih kepada Awang Faroek Ishak.

“Yah itu sudah berlalu. Dari pengalaman itu semua itu kita bisa mengambil pelajaran bahwa sangat perlunya otonomi kebijakan partai bagi provinsi, kabupaten dan kota,” kata Andi Harun yang ditemui di ruang kerjanya, kemarin.
Artinya, lanjut ayah dari Muhammad Afif Rayhan Harun, Adeeva Nabila Harun, dan Abyan Rayhan Harun ini, otonomi kebijakan partai ini untuk menghindarkan dari konflik struktural di tingkat DPP. Pemahaman paling sederhana adalah untuk urusan dukung-mendukung di tingkat kabupaten dan kota harus diserahkan ke kabupaten dan kota yang bersangkutan.

“Begitu juga seterusnya, untuk pemilihan kepala daerah di tingkat provinsi maka harus ditangani provinsi juga. Untuk pusat cukup membahas masalah pemilihan presiden saja. Jika ini bisa dilakukan maka partai politik ini tidak mudah untuk diadu domba antara calon yang diusung dan pengurus partai politik,” imbuhnya.

Karena dianggap tidak sejalan dengan arahan partainya dalam hal dukung-mendukung tersebut, Andi Harun pun dipecat. Tidak hanya itu saja, posisinya di DPRD Kaltim yang kala itu dipercaya sebagai wakil ketua DPRD Kaltim pun harus rela dilepaskan. Dengan berlapang dada, dirinya melepaskan atribut partai yang pernah membesarkan di kancah perpolitikan Kaltim tersebut.

“Sempat vakum setengah tahun setelah keluar dari PAN. Saya sempat berpikir untuk tidak sama sekali bersentuhan dengan politik lagi. Saya mau istirahat dari dunia politik,” ujarnya.

Tapi hal itu tak bisa terwujud, lantaran setelah vakum dari PAN malah banyak mendapat tawaran masuk ke partai politik lain. Karena memang tidak berminat, maka tawaran demi tawaran itupun ditolak dengan halus. Ketidaktertarikan ini bukan disebabkan rasa jera, lantaran pernah didepak PAN. Tapi disebabkan rasa jenuh dalam berpolitik. Makanya timbul hasrat untuk istirahat dari dunia politik.

Kenapa tertarik dengan Partai Patriot Pancasila? Ia mengaku awalnya hanya ingin membantu, karena diminta oleh Ketua DPW Partai Patriot Pancasila Kaltim H Said Amin. Karena pertemanan yang cukup lama dengan Said Amin, maka permintaan itu pun ia sanggupi. Bahkan karena ingin mendongkrak suara dan perolehan kursi bagi Partai Patriot, namanya pun masuk dalam bursa caleg.

“Itupun saya daftarkan pada detik-detik terakhir penutupan untuk pencalegan. Ini menunjukkan pengalaman hidup seseorang itu adalah proses menentukan takdir masing-masing,” kata Andi Harun yang kini menduduki jabatan wakil ketua di DPW Partai Patriot Pancasila Kaltim. Sekarang dirinya juga sedang gencar menyosialisasikan diri maju sebagai calon walikota Samarinda. (edy santoso)